Skip to main content

Waktu untuk Membangkang

"Memang tidak ada kata terlambat untuk memulai segala sesuatu, tetapi Anda perlu waspada jika sudah melewati umur tiga puluh dan Anda belum melakukan apa-apa."

Jawa Pos, Ruang Putih, Saujana -  Minggu, 28 Januari 2018

Oleh A.S. LAKSANA

KALIMAT berikut ini saya temukan pada umur 20-an awal: ’’Seorang pria seharusnya tidak menikah setelah berumur tiga puluh tahun, tidak masuk dinas pemerintahan setelah berumur empat puluh, tidak memiliki anak lagi setelah berumur lima puluh, dan tidak bepergian setelah berumur enam puluh. Itu karena waktu yang tepat untuk hal-hal tersebut sudah berlalu.’’

Shih Nai-An (1296–1372) menggunakannya sebagai pembuka untuk bagian pengantar novelnya Batas Air, novel China Klasik yang berisi 100 bab dengan tokoh 108 pemberontak yang bermukim di Gunung Liang (Liangshan). Di bawah pimpinan Song Jiang, mereka melakukan pembangkangan terhadap kebejatan pejabat-pejabat istana pada masa Dinasti Song, tetapi tetap setia kepada kaisar; kurang lebih plotnya sama dengan Robin Hood, namun lebih rumit karena tokohnya banyak sekali. Pada bagian akhir cerita nanti mereka juga akan mendapatkan pengampunan dari kaisar dan menjadi pendekar-pendekar kepercayaan istana.

Versi terjemahan novel tersebut diterbitkan oleh Penerbit Grafiti, 1987, sudah tidak ada lagi di rak buku saya karena dimakan rayap, tetapi kalimat pembuka itu sepertinya akan terus melekat dalam ingatan. Kalimat yang bagus memang sering kali melekat selamanya dalam ingatan orang; itu sebabnya kita masih bisa mendapati kalimat yang pernah diucapkan oleh orang-orang berabad-abad lalu, bahkan oleh mereka yang hidup beberapa ratus tahun sebelum Masehi.

Sebetulnya, saya tidak tahu kenapa kalimat itu terus mendekam dalam ingatan saya. Itu terjadi begitu saja tanpa saya berusaha mengingatnya. Mungkin karena saya senang membacanya. Saya menyukai kalimatkalimat pembuka yang bagus dan percaya bahwa setiap penulis bagus biasanya selalu membuka tulisan mereka dengan kalimat yang bagus. Setidaknya, mereka memiliki kesadaran untuk mengerahkan tenaga dan pengetahuan, bertarung alot dengan diri sendiri, demi mendapatkan kalimat pertama yang sanggup memikat pembaca.

Pada umur dua puluhan, ketika berjumpa dengan kalimat itu, saya masih punya waktu untuk melakukan apa saja sebelum segalanya terlambat. Umur tiga puluh masih jauh pada waktu itu, apalagi tujuh puluh, cita-cita masih bisa digantungkan setinggi langit dan tenaga masih cukup kuat untuk mengangkat gunung dan menjungkirbalikkannya. Pendek kata, saya masih sanggup menghancurkan kepala kerbau gila sebagaimana dilakukan oleh Joko Tingkir.

Saya bersungguh-sungguh mengenai hal itu. Anda tahu hal-hal besar dalam sejarah sering dikerjakan oleh anakanak muda pada usia di bawah tiga puluh. Media sosial yang paling populer Facebook diluncurkan kali pertama pada 2004 saat Mark Zuckerberg berusia 20 tahun. Mesin pencari Google dimulai pada 1996 oleh Larry Page dan Sergey Brin saat mereka berdua baru berusia 23 tahun. YouTube dibuat oleh tiga anak muda Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim saat mereka masing-masing berusia 28, 27, dan 26 tahun.

Teman-teman seumuran saya sering mengatakan bahwa era internet saat ini adalah masa kejayaan bagi anakanak muda. Jika disederhanakan, pendapat mereka bisa dituliskan seperti ini: ’’Orang-orang seumuran kita sudah tidak sanggup mengikuti perkembangannya.’’

Saya sepakat dengan pernyataan itu; perkembangan cepat teknologi informasi memerlukan otak dan cara berpikir yang berbeda dan itu hanya dimiliki oleh anak-anak muda generasi baru yang tumbuh bersama-sama tumbuhnya internet.

Namun, saya kemudian meralat persetujuan saya karena pernyataan tersebut tidak sepenuhnya akurat. Yang benar, setiap era adalah masa kejayaan anak-anak muda. Pada masa sebelumnya, Einstein mengumumkan teori relativitasnya pada umur 26, Bung Karno membacakan naskah pidatonya Indonesia Menggugat di hadapan pengadilan kolonial Belanda pada usia 29, penyair terbesar kita Chairil Anwar bahkan sudah meninggal pada umur 27, penyair romantik Inggris John Keats meninggal pada usia 25 dan sampai sekarang dia adalah salah satu penyair yang paling dicintai di negerinya. Thomas Alva Edison satu tahun melampaui usia 30 saat ia berhasil membuat bohlam listriknya bisa menyala –masih bisa kita sebut anak muda.

Jauh sebelumnya, pada abad keempat sebelum Masehi, Aleksander Agung menguasai separo dunia pada usia 30 tahun; ia meninggal pada usia 33.

Jadi, setiap era adalah era anak muda, dan usia di bawah tiga puluh adalah waktu yang tepat untuk memberontaki kemapanan dan menciptakan hal-hal besar. Memang tidak ada kata terlambat untuk memulai segala sesuatu, tetapi Anda perlu waspada jika sudah melewati umur tiga puluh dan Anda belum melakukan apa-apa. Waktu tidak pernah bersahabat. Ia adalah tiran yang tak bisa dilawan. Ia menggerogoti kesegaran masa muda kita, membuat tubuh kita keropos pelahan-lahan, dan –yang paling mengerikan– ia membiarkan kita terlena. Nanti, pada saat kita sadar, tiba-tiba kita sudah melewati batas waktu dan umur kita sudah 70.

Itu bukan umur yang tepat untuk melakukan pemberontakan. Jika Anda baru melakukan pembangkangan pada umur 70-an, Anda akan terdengar seperti orang tua yang mengigau. Selain tenaga sudah melemah, visi Anda tidak memadai lagi; pada umur 70-an, orang cenderung melihat ke belakang. (*)

A.S. Laksana, cerpenis, tinggal di Jakarta

Kata kunci: umur 20, Shih Nai-An, Novel Batas Air, Robin Hood, Penerbit Grafiti, kalimat pembuka, Joko Tingkir, Facebook, Mark Zuckerberg, Google, Larry Page, Sergey Brin, YouTube, Chad Hurley, Steve Chen, Jawed Karim, era internet, anak muda, Einstein, teori relativitas, Bung Karno, Indonesia Menggugat, Chairil Anwar, John Keats, Thomas Alva Edison, bohlam listrik, Aleksander Agung, waktu,

Comments

Popular posts from this blog

Daftar Koleksi Buku Ruang Baca Petrikor

Dari koleksi pribadi dan donasi  atas bantuan teman-teman di Komunitas Fiksi Kudus ( Kofiku ). Kini daftar judul buku di Ruang Baca Petrikor bisa diteliti untuk mencari bacaan yang tersedia. Selain itu, kami menawarkan tagline yang dipungut dari hasil kliping esai: banyak baca, banyak rezeki. (Update  Info 15 Januari 2018) BUKU ANAK Agus Maryoto, Kisah Belalang dan Ulat, Cerita Bergambar, CV Ghyyas Putra, 24 hlm Agus R, Kerja Sama Rara dan Kiki, Cerita Bergambar, PT Bengawan Ilmu, 24 hlm Ahmad Filyan al-Hazza, Bimbingan Anak Gemar Shalat Berdoa Juz Amma disertai Asmaul Husna, Prima Jaya Surabaya,128 hlm Ella Yulaelawati dkk., kuring resep bubuahan, Bhs. Sunda, Cerita Bergambar, Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini, 2016, 24 hlm Hafid dkk., Kumpulan Cerita Terbaik Apa Ceritamu Hari Ini (Versi Cerita Video), Cerita Bergambar, Nestle Dancow Coklat Actigo, 2010, 64 hlm G. Wu, Bill Gates, biografi orang sukses for kids, Cerita Bergambar, GPU, 2015, 24 hlm Gianni...

Membuka Akses Buku

Ruang Baca Petrikor , bisa dibilang bukanlah perpustakaan, hanya sekedar upaya mendekatkan akses terhadap bacaan. Saya baru bertemu perpustakaan dengan koleksi bacaan beragam sewaktu belajar di MAN 2 Kudus. Sederhananya, saya membayangkan, bila sejak kecil saya punya akses buku yang banyak dan sesuai, barangkali, lebih awal saya menyadari apa yang perlu dikembangkan dari apa yang saya minati. Jika kita menyandingkan waktu belajar dan buku, kita akan mendapati waktu tak terhingga. Belajar bisa kapan saja dan di mana saja. Idiom populernya, buku adalah jendela ilmu. Dengan sekolah, waktu belajar paling banter sampai sore hari. Kalaupun sekarang anak sekolah seperti belajar sepanjang hari karena boarding school atau les tambahan. Terkadang, kita lebih banyak belajar hal-hal yang jauh dari dibutuhkan  keseharian. Saya pikir, langkah kecil seperti membuka akses terhadap buku bacaan, bisa jadi memperbaiki pendidikan. Saya mengumpulkan buku untuk dibaca, di luar kebutuhan itu, seiring...